Tampilkan postingan dengan label Agriculture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agriculture. Tampilkan semua postingan

11 Des 2011

Pemanenan Tebu (Harvesting)

Pemanenan (Harvesting)


Pemanenan adalah kegiatan akhir dari setiap siklus penanaman tebu, dimana kegiatan pemanenan meliputi Tebang, Muat dan Angkut, yang bertujuan: memungut tebu dalam jumlah yang optimal dari setiap petak tebang, mengangkut tebu dari petak tebangan ke pabrik dan mempertahankan hasil gula yang secara potensial berada pada tanaman tebu. Kegiatan tebang muat angkut (TMA) adalah kegiatan yang sangat komplek, karena bukan saja merupakan rangkaian dari tiga kegiatan yang saling mempengaruhi, tapi juga karena sangat ketat dibatasi oleh waktu. Apabila terjadi kendala di salah satu kegiatan, maka kegiatan lainnya akan terganggu. Seluruh kegiatan pertanaman akan ditentukan hasilnya dalam kegiatan TMA, bahkan hasil kinerja perusahaan akan ditampilkan dari kegiatan TMA. Kinerja manajemen seolah-olah dipertaruhkan dalam kegiatan ini. Secara garis besar tujuan dari TMA adalah mendapatkan tebu giling yang masak segar bersih (MSB) sebanyak-banyaknya sejak ditebang hingga digiling dalam tempo secepatnya.

Mengingat hal tersebut maka kegiatan Tebang Muat dan Angkut (TMA) dapat dikatakan berhasil dengan baik bilamana dapat mensuplai jumlah tebu yang sesuai dengan quota pabrik (sinkronisasi dengan kapasitas giling), kontinuitas pengiriman tebu ke pabrik dapat dipertahankan, kehilangan tebu baik di areal maupun dalam perjalanan seminimal mungkin, kesegaran tebu tetap terjaga dan kehilangan gula seminimal mungkin.
Pelaksanaan pemanenan dan pengiriman tebu ke pabrik menggunakan 3 (tiga) sistim tebang yaitu:
a. Penebangan Tebu Sistem Tebu Ikat (Bundled Canet-BC) 

Tebangan dengan sistem Bundled Cane adalah sitem tebangan yang dalam pelaksanaan tebang serta pemuatannya (loading) dilaksanakan dengan tenaga manusia (manual), sedangkan transportasi tebu dari petak tebang ke pabrik dilaksanakan dengan mengunakan truck. Karakteristik tebangan Bundled Cane mempunyai keunggulan: hanya memerlukan investasi yang relatif kecil, dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, resiko terhadap kerusakan petak relatif kecil, dapat beroperasi walaupun dalam kondisi cuaca basah, kapasitas pengiriman ke pabrik relatif besar. Di samping itu tebangan Bundled Cane mempunyai kekurangan: kualitas tebangan berfluktuasi dan tergantung dari intensitas pengawasan di lapangan, sangat rentan terhadap faktor eksternal (faktor sosial), memerlukan tenaga tebang dalam jumlah besar, dan hal ini seringkali sulit didapatkan.

b. Penebangan Tebu Sistem Tebu Urai (Loose Cane-LC)
Sistem penebangan Loose Cane (LC) adalah sistem penebangan di mana tebang dan ikat tebu dilakukan secara manual sedang pemuatannya (loading) dilakukan dengan menggunakan Grab Loader, dan pengangkutan tebu dari petak tebang ke pabrik dilakukan dengan truck (Losse Box) ataupun diangkut dengan trailer. Keunggulan penebangan Loose Cane: kapasitas pengiriman relatif besar, penyelesaian penebangan dan transportasi relatif cepat, dapat digunakan sebagai balancing atau penyeimbang terhadap permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul dari Bundled Cane. Sementara itu untuk kekurangannya: diperlukan investasi yang relatif besar untuk pembelian peralatan seperti traktor, trailer, grab loader, dan sebagainya, dalam kondisi areal basah seringkali kesulitan dalam operasional loading maupun transportasi tebunya, resiko kerusakan areal lebih besar dibandingkan dengan sistem manual (Bundled Cane).
c. Penebangan Tebu dengan Mesin (Cane Harvester)
Penebangan dengan menggunakan mesin pada hakekatnya hanya untuk penyangga atau membantu untuk memenuhi quota pengiriman tebu. Hal ini mengingat dengan peralatan tersebut diperlukan investasi awal yang besar serta dengan biaya operasional yang relatif mahal. Akan tetapi pada kondisi tertentu penebangan tebu harus dibantu dengan menggunakan peralatan mesin tebang tersebut.Kondisi dimana mengharuskan penebangan dengan cane harvester: pada saat jumlah tenaga tebang menurun, sehingga quota pengiriman tebu ke pabrik tidak terpenuhi dari sistem Bundled Cane maupun Loose Cane, diperlukan pengiriman tebu ke pabrik dalam waktu yang cepat, agar dapat memenuhi quota pengiriman tebu ke pabrik, untuk membantu/menopang pengiriman tebu ke pabrik agar dapt menggiling tebu secara kontinyu.
Sementara itu untuk pengoperasian Cane Harvester secara optimal diperlukan persyaratan-persyaratan antara lain: kondisi areal relatif rata, kondisi tebu tidak banyak yang roboh, kondisi areal bersih dari sisa-sisa kayu/tunggul, kondisi areal tidak banyak mengandung tanaman merambat (Mikania), petak tebang dalam kondisi utuh sekitar 10 ha, kondisi petak tebang tidak basah/becek. Tujuan TMA menyelamatkan tebu MSB sebanyak-banyaknya, namun hasil pengamatan di sebuah pabrik gula di Jawa seperti diilustrasikan pada Gambar 1 menunjukkan penurunan % pol tebu bisa mencapai 6.0 poin dalam perjalanannya mulai dari kebun, di cane yard atau emplasemen dan terakhir di pabrik. Dari kebun ke cane yard atau emplasemen mencapai 2.5 %, sedangkan dari cane yard atau emplasemen hingga ke luar dari proses pabrik mencapai 3.5 %. Belum lagi jika memperhitungkan penurunan bobot tebunya. Kehilangan % pol tebu dari kebun ke cane yard umumnya disebabkan penundaan giling. Tebu di lasahan terlalu lama, akibat terlambatnya angkutan atau produktivitas tebangan kurang, akibat hujan atau sebab-sebab lain. Diagram di bawah ini menunjukkan perjalanan % pol tebu dari kebun ke pabrik di salah satu pabrik gula di Jawa


Jika diurut ke belakang, penundaan giling terjadi karena tebu lama di lasahan dan atau lama di emplasemen atau cane yard. Lamanya tebu di lasahan umumnya karena menunggu tebu terkumpul dulu cukup banyak untuk diangkut, atau karena menunggu alat angkut. Tebu tebangan yang lama menunggu terkumpul untuk diangkut disebabkan jumlah tenaga TMA yang tidak mencukupi kebutuhan. Tebu yang lama di emplasemen atau cane yard disebabkan pabrik mengalami kerusakan sehingga tebu harus tertunda giling, dapat menyebabkan penurunan pol tebu dan kesulitan proses pengolahannya.

Beberapa kriteria bagi tebu yang dinyatakan tebu: masak, segar bersih (MSB) adalah sebagai berikut:


  • apabila secara visual daun tebu sebagian besar mengering, kecuali pucuknya. Untuk tebu yang mudah mengelentek (self trashing), sebagian besar daunnya rontok, baik karena mengelentek sendiri ataupun dikelentek;
  • secara kimiawi, kadar gula (pol, brix, HK, rend) bagian bawah dan atas hampir sama. Kadar gula reduksinya rendah (biasanya dibawah 0,5 %). Kadar P2O5 tinggi (> 250 ppm). Tebu dikatakan sudah masak jika faktor kemasakan < 25;
  • tebu dikatakan bersih apabila tidak/sedikit mengandung kotoran non tebu a.l.: daun,pucuk, klaras, sogolan,tanah, dan benda lain yang bersabut/tidak bersabut. Komposisi nira yang berasal dari tebu bersih adalah bila HK niranya tinggi (di atas 80 %), kadar gula reduksi rendah < 0,5 %, kadar amilumnya rendah < 100 ppm dan kadar tanahnya rendah < 2,5 % bahan kering;
  • tebu segar secara visual bekas potonganya masih basah (tidak kering) batangnya tidak keriput dan tidak berjamur. Sedang secara kimiawi HK niranya tinggi (jauh di atas 80 %), kadar gula reduksinya rendah (< 0,5 %), kadar dextran rendah (< 0,02 % bx) dan pH nya normal (5,4 -  5,8). 

Untuk mengetahui apakah tebu yang ditanam di suatu kebun itu sudah waktunya untuk ditebang atau belum, tidak cukup hanya dilihat dari tanda-tanda fisiknya yakni daunnya yang sudah hampir mengering semua serta sebagian besar sudah menglentek, sebab tanda-tanda tersebut bisa jadi disebabkan oleh hal lain seperti akibat kekeringan. Cara yang umum dilakukan adalah dengan melakukan analisis kemasakan atau sering disebut analisis gilingan contoh atau analisis gilingan kecil atau analisis pendahuluan.
 

Pemeliharaan Tanaman Tebu (Maintenance)

Pemeliharaan Tanaman (Maintenance)

Pemeliharaan tanaman dapat dilihat pada diagram alir berikut ini


a. Aplikasi kapur pertanian (dolomite/calcite, gypsum)
Kegiatan penaburan ini dilakukan dengan tujuan untuk menambah kandungan unsur mikro Magnesium (Mg, Ca) yang berfungsi untuk menaikkan pH tanah menuju netral karena tanah Podzolik Merah Kuning merupakan tanah yang memiliki pH yang relatif rendah dan kurang baik untuk pertumbuhan tanaman tebu. Gypsum juga menyediakan Ca (kalsium) dan sulfat. Dosis yang digunakan adalah 2 ton/ha setiap penanaman kembali tebu setiap 3 - 4 tahun (Replanting cane). Di samping pemberian kapur, juga diberikan 1 ton/ha gipsum yang berfungsi meningkatkan ketersediaan kalsium dan sulfat.


b. Aplikasi blotong (filter cake)
Blotong merupakan bahan hasil sampingan berupa padatan berwarna hitam pekat dalam proses pengolahan tebu menjadi kristal-kristal gula. Penebaran blotong lebih diprioritaskan untuk areal yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah yaitu pada tanah yang lapisan sub-soilnya tipis atau bahan organik rendah. Dosis yang dianjurkan untuk penggunaan blotong yaitu 40 – 50 ton/ha.

c. Aplikasi stillage
Stillage merupakan hasil samping dari pengolahan tetes tebu yang diaplikasikan setelah kegiatan tebang selesai dilakukan dengan dosis 20.000 liter/ha (kandungan K adalah 1% di dalam stillage). Stillage kaya dengan kalium, sehingga dengan takaran yang diberikan akan mampu menggatikan pupuk KCl. Stillage juga cukup mengandung nitrogen, bila disetarakan dengan pupuk ZA, maka takaran sitillage yang diberikan setara dengan 200 kg ZA. Mengingat komposisinya, maka bahan ini secara ekonomi dapat mengefisienkan dan mengurangi biaya produksi dalam segi pemupukan, hanya saja jumlah yang terbatas menyebabkan pemanfaatannya masih terbatas. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah bahan organik yang terkandung di dalammya masih mempuyai BOD dan COD yang masih tinggi.

c. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit dalam budidaya tanaman merupakan hal yang perlu menjadi perhatian karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi apabila serangan hama melebihi ambang ekonomi. Agar tidak terjadi ledakan serangan hama dan penyakit, maka perlu dilakukan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman tebu mulai umur tanaman 1 bulan. Penggerek pucuk dan batang merupakan hama-hama utama di beberapa pabrik gula khususnya di Jawa dan Sumatera. Hama penggerek pucuk Triporyza nivela intacta menyerang tunas umur 2 minggu hingga saat tebang. Pucuk tebu yang terserang akan mati atau membentuk siwilan. Hama penggerek yang menyerang batang tebu adalah Proceras sacchariphagus (penggerek bergaris), Chilo auricilia (penggerek berkilat), eucosma scistaceana (penggerek abu-abu), Chilotraea infuscatela (penggerek kuning), Sesamia inferens (penggerek jambon) dan Pragmataesia castanea (penggerek raksasa). Kerugian akibat serangan penggerek berupa batang-batang yang mati tidak dapat digiling dan penurunan bobot tebu atau rendemen akibat kerusakan pada ruas­ruas batang. Kerugian gula akibat serangan penggerek pucuk ditentukan oleh jarak waktu antara saat penyerangan dan saat tebang. Menurut Wiriotmodjo (1970), kehilangan rendemen dapat mencapai 50 % jika menyerang tanaman tebu umur 4-5 bulan dan 4 - 15 % pada tebu yang berumur 10 bulan. Hasil pengamatan Wirioatmodjo (1973), pada tingkat serangan ruas sebesar 20 %, penurunan hasil gula dapat mencapai 10 %.
Pengendalian hama penggerek dengan cara mekanis dan kimiawi semakin mahal dan sulit dilakukan. Oleh karena itu pengendalian secara terpadu (PHT) merupakan alternatif yang terbaik. Kegiatan PHT dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan berbagai macam cara pengendalian yang meliputi pengendalian secara mekanis, kultur teknis, biologis, dan kimiawi. Pengendalian secara mekanis yang dilakukan di antaranya tangkap kupu-telur, klentek, dan roges. Pengendalian kultur teknis meliputi penanaman dengan menggunakan varietas unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit, dan penggunaan blok sistem dalam tebang. Pengendalian hama secara biologis dengan menggunakan parasitoid dan predator seperti Trichogamma chilonis, Cotesia flavipes, Sturmiopsis inferens, Tetrastichus scoenobii, dan Elasmus zehteneri. Pengendalian secara kimiawi dengan aplikasi carbofuran dengan Microband dan spray pesawat untuk hama penggerek pucuk dan kutu bulu putih.
Pengendalian penyakit Pembuluh dengan perawatan air panas 50° C selama 2 jam terhadap bibit tebu dapat mengembalikan hasil yang hilang sebesar lebih kurang 10 %, tetapi kendala yang dihadapi adalah ketiadaan tangki air panas di pabrik gula­pabrik gula.
Penyakit Luka Api yang disebabkan oleh jamur Ustilago scitaminea Sydow merupakan penyakit penting di Indonesia. Sejak ledakannya pada tahun 1979, penyakit ini kemudian menyebar ke kebun-kebun tebu di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Dari survei yang pernah dilakukan di areal perkebunan tebu di Jawa Barat, serangannya mencapai ± 40 %.
 
sumber: 
http://survey-pemetaan.blogspot.com
 

Tata Cara Tanam Tebu (Planting)

Tanam (Planting)

Tanam merupakan kegiatan yang dilakukan untuk replanting cane (RPC). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tanam ini adalah menentukan varietas yang akan ditanam yaitu varietas yang tahan hama dan penyakit, memperhatikan bulan tanam, tebu RPC, berumur antara 6 - 8 bulan, murni (tidak tercampur varietas lain), daya kecambah tinggi, dan memiliki figur yang baik. Tebu yang ditanam berupa replanting cane (RPC) dan ratoon cane. Rencana replanting dilakukan dalam setiap musim tanam sebanyak ± ¼ (seperempat) dari luas total tanaman. Pembongkaran ratoon untuk rencana replanting didasari atas beberapa pertimbangan sebagai berikut: (1) produksi tebu per hektar; (2) keadaan hama dan penyakit; (3) keadaan gulma; dan (4) periode ratoon. Bulan tanam dan bulan tebang yang tepat perlu diperhatikan untuk memperoleh tingkat rendemen yang maksimal disesuaikan dengan varietas tebu yang tergolong masak awal, tengah, dan akhir.
Masa tanam bibit hendaknya disesuaikan dengan kategori umur kemasakannya sedemikian hingga masa tanaman baru (PC) tersedia bibit seperti kategori kemasakannya. Kategori kemasakan tebu terkait dengan lama tanaman tebu yang telah berumur fisiologi dewasa (lebih dari 9 bulan) mengalami kondisi lengas tanah rendah (kurang dari 50% kapasitas lapang) dan menunjukkan tingkat kecepatan masaknya, yaitu awal (Mei - Juni), tengah (Juli -Agustus) dan lambat (setelah September). Sedangkan umur tebu dipanen menentukan hasil tebu yang diperoleh. Tebu yang sama masak awal ditanam pada bulan Mei dan bulan Agustus akan siap ditebang pada bulan Mei-Juni dimana tanaman Mei telah berumur 12 - 13 bulan, sedang tanaman Agustus baru berumur 9 - 10 bulan. Tanaman tebu yang dipanen pada umur 12 - 13 bulan akan memberikan hasil tebu lebih tinggi dibandingkan tanaman yang dipanen pada umur 9 - 10 bulan. Oleh karena itu perencanaan tanam suatu varietas harus selalu disesuaikan dengan rencana tebang yang mengacu kepada kategori kemasakannya sehingga diperoleh hasil tebu dan tingkat rendemen yang tinggi.

Kegiatan tanam ini dilakukan saat lahan sudah selesai diolah,  adapun kegiatan tanam di antaranya meliputi:

a. Tebang bibit 

Tebang bibit merupakan kegiatan yang dilakukan pada luasan lahan dan varietas tebu tertentu. Bibit didapat dari kebun bibit yang sebelumnya telah ditentukan. Tebu yang akan digunakan untuk bibit ditebang sebagai tebu hijau (tebang hijau), yaitu bibit ditebang tanpa dibakar. Sebelum dilakukan penebangan, terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit agar tidak terjadi varietas campuran yang berasal dari sisa pertanaman sebelumnya. Penebangan harus dilakukan secara benar. Topping tanaman tebu ditebang begitu pula batang tebu ditebang sampai pangkal batang. Permasalahan yang sering terjadi adalah banyak pekerja yang tidak menebang sampai pangkal batang. Alat yang digunakan untuk kegiatan ini yaitu golok. Kapasitas kerja dari tenaga tebang yaitu 900 m/orang/hari. Bibit yang ditebang diikat setiap 20 - 25 batang dan dipotong pada pucuknya dan diikat.
 
b. Angkut bibit

Pengangkutan dilakukan pada tebu bibit yang telah diikat (bundle cane) dengan menggunakan truk pengangkut dan didistribusikan ke areal yang telah diprogram untuk kegiatan penanaman. Pengangkutan ini harus dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Apabila tanah tidak becek, maka aturan masuknya truk untuk pendistribusian bibit yakni truk masuk ke areal pada setiap 8 kairan, bibit terikat diletakkan setiap 10 - 15 m, dan untuk double overlap diletakkan 8 ikat di kiri kanan truk.

c. Ecer bibit
Ecer bibit merupakan kegiatan yang dilakukan dengan membongkar bibit yang selanjutnya bibit diecer pada jalur-jalur tanam yang sudah dibuat dalam kegiatan pengolahan tanah. Pengeceran bibit dilakukan setelah dropping bibit ke lahan kemudian diecerkan dengan sistem single overlapping 50 % dengan bagian pangkal tebu bertemu dengan bagian ujung tebu. Sistem tanam overlapping dilakukan dengan tujuan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan dapat meminimalkan resiko tidak tumbuh.
 
d. Cacah bibit
Cacah bibit merupakan kegiatan yang dilakukan dengan memotong bibit menjadi 2 – 3 mata tunas. Hal ini dilakukan agar tunas dapat tumbuh dengan merata pada masing-masing bagian, perkecambahan tebu dapat menjadi seragam serta dapat cepat tumbuh. Jika tidak dilakukan pencacahan maka hanya ujungnya saja yang akan tumbuh tunas (dominansi apikal).

e. Irigasi
Sebagai tanaman asli (origin plant) dari daerah tropika basah, tebu digolongkan ke dalam tanaman yang memerlukan air dalam jumlah banyak namun peka terhadap kondisi lingkungan tumbuh yang berdrainase jelek. Tanaman ini relatif toleran terhadap cekaman air (water stress) sehingga pada daerah dengan curah hujan sekitar 1000 mm/th tebu masih mampu bertahan.
Selain masa tanam yang tepat dan tercukupinya makanan, faktor lain yang menjamin keberhasilan budidaya tebu yaitu air dapat dikendalikan. Dalam arti bila terjadi defisit air tanaman tebu dapat diberi tambahan air pengairan, demikian sebaliknya apabila terjadi kelebihan air dapat dipatus. Hasil penelitian menunjukkan untuk menghasilkan 1 kg tebu atau setara dengan 0,1 kg gula diperlukan sekitar 100 kg air; sedangkan untuk memproduksi 1 g berat tebu (segar), 1 g berat kering dan 1 g gula, diperlukan air berturut-turut sebesar 50 - 60, 135 - 150, dan 1000 - 2000 g air. Jumlah kebutuhan air sejalan dengan umur tanaman tebu sangat bervariasi tergantung pada fase pertumbuhan dan lingkungan tumbuhnya (agroekologi). Secara garis besar fase pertumbuhan tebu dibagi menjadi 4, yaitu: (1) perkecambahan (0 - 5 minggu), (2) pertunasan (5 minggu - 3,5 bulan), (3) pertumbuhan cepat (3,5 – 9 bulan), dan (4) pamasakan batang (~ 9 bulan). Puncak kebutuhan air pada tanaman tebu terjadi pada fase pertumbuhan cepat, yaitu mencapai 0,75 - 0,85 cm air / hari.
Irigasi bertujuan untuk memberi suplai air bagi tanaman, merangsang pertumbuhan tunas tanaman, dan meningkatkan kelembaban areal. Irigasi yang dilakukan yaitu irigasi terbuka pada saat sebelum bibit di-cover dan irigasi tertutup pada saat bibit sudah di-cover dengan lama irigasi 2 jam per perlakuan. Alat yang digunakan untuk irigasi berupa big gun sprinkler. Biasanya irigasi dilakukan sebelum covering setelah bibit dicacah, hal ini dilakukan agar tanah yang digunakan untuk menutup bibit tetap lembab, dan ini diharapkan mampu menjaga kelembapan untuk bibit sehingga dapat memacu perkecambahan tunas dengan baik.
f. Penimbunan/penutupan bibit (Covering)
Covering merupakan kegiatan penutupan bibit setelah dicacah dengan gundukan tanah yang remah. Covering harus tebal (10 – 15 cm) sehingga bibit mendapat ruang yang lebih besar untuk tumbuh. Jika areal pertanaman kering dan sangat ekstrim, maka dilakukan penyiraman dengan irigasi. 
g. Pemadatan (Compaction) 
Compaction merupakan kegiatan yang dilakukan setelah covering untuk meremahkan bongkahan tanah agar lebih halus, meminimalkan rongga-rongga di daerah pertanaman sehingga air tidak cepat menguap dan tidak hilang karena run off sehingga bibit tidak kering.
 
 
sumber: http://survey-pemetaan.blogspot.com

Pengolahan Tanah Tanaman Tebu

Mempersiapkan Lahan/Tanah (Land Preparation)



Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan tanah agar dapat menjadi media yang baik sehingga menciptakan kondisi pertumbuhan tanaman tebu yang sehat dan normal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan lahan (land preparation) adalah sebagai berikut.


  1. Brushing merupakan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk memotong tunggul dan sampah guna memudahkan pembajakan, dan meratakan tanah, serta mencacah sampah yang tidak terbakar. Kegiatan ini dilakukan pada areal tanaman ratoon yang akan dibongkar atau areal yang akan ditanami kembali (replanting cane). Indikator brushing yang baik adalah semua tunggul dan sampah terpotong sehingga tanah menjadi rata. Brushing dilakukan dengan menggunakan implement berupa piringan (disc) harrow Ku Lin atau Baldan yang ditarik oleh traktor medium 140 HP. Kapasitas kerja yang mampu dilakukan oleh alat ini yaitu 0,9 ha per jam. Tanah yang telah di-brushing dibiarkan selama 3 - 7 hari untuk mematikan biji-biji gulma.
  2. Pembajakan atau Ploughing merupakan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk membalik dan menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi dan drainase tanah. Selain itu pembajakan berguna untuk memutus perakaran tumbuhan pengganggu serta mencacah tunggul atau tonggak pertanaman tebu sebelumya. Kedalaman pembajakan sekitar 35 - 40 cm. Arah pembajakan menyilang dari arah barisan pertanaman tebu yang lama dan membentuk sudut dengan deviasi maksimum 30o dan dilakukan bajak pinggir dengan 6 - 7 ancakan. Jika ada alang-alang harus di-spraying terlebih dahulu 10 - 14 hari setelah tebang, kemudian dilakukan brushing 10 - 14 hari setelah aplikasi spraying. Tanah dibiarkan terbuka selama 4 - 7 hari setelah dilakukan ploughing untuk mematikan biji-biji gulma. Implement yang digunakan berupa moldboard plough Ku Lin jumlah point 3 pcs dengan sudut mata bajak yang sejajar, dan ditarik oleh traktor medium 140 HP. Traktor berputar ke arah kanan, pada saat bekerja ketinggian mata bajak sejajar, dan traktor tidak boleh berputar di jalan.
  3. Harrowing pada umumnya dilakukan setelah plough (pembajakan). Tujuan dari kegiatan harrowing ini yaitu untuk meremahkan tanah setelah dibajak sehingga tidak ada lagi bongkahan tanah. Jika masih ada bongkahan tanah maka pengerjaan kegiatan berikutnya tidak akan berjalan dengan lancar. Arah kerja memotong tegak lurus arah bajak dan roda harrow harus diangkat. Implement yang digunakan yaitu harrow 28 disc yang ditarik dengan tenaga traktor bertenaga 140 HP. Kedalaman olah tanah dari kegiatan ini adalah 15 - 25 cm. Masalah yang sering muncul dalam kegiatan ini adalah tanah setelah digaru masih memiiki bongkahan besar dan tidak cocok untuk pertanaman. Untuk mengatasi hal ini maka penggaruan sebaiknya dilakukan sebanyak 2 kali sehingga terbentuk tanah yang remah dan memiliki kandungan banyak oksigen, aerasi baik dan tanah menjadi optimal untuk pertumbuhan tanaman. 
  4. Kegiatan track marking dilakukan setelah harrowing selesai. Tujuan kegiatan ini adalah membuat alur tanam sementara, membuat guludan dengan jarak antara pusat ke pusat 1,85 m, dan membuat jalur untuk masuknya kendaraan (traktor dan truk) ke areal pertanaman. Arah track marking harus sesuai dengan kontur atau topografi dan kedalamannya > 35 cm. Jika areal datar, arah track marking sesuai dengan arah sinar matahari, yaitu dari timur ke barat. Operasional track marking harus overlap. Pembuatan track marking harus dikerjakan pada kondisi kadar air tanah kapasitas lapang. Jika musim kering, pembuatan track marking harus dimulai dari daerah yang dekat dengan sumber air. Jika areal miring > 5 % maka wajib dibuat kontur bank menggunakan disc plough. Implement yang digunakan berupa disc Ku lin berjumlah 12 pcs yang ditarik oleh traktor medium berkekuatan 140 HP. 
  5. Kegiatan ripping bertujuan untuk memecah dan menggemburkan lapisan tanah kedap air dan sebagai reservoir air. Cara kerjanya dengan mengikuti alur track marking dan dibuat di dasar track marking. Kedalamannya merata yaitu mencapai sekitar ≥ 40 cm (diukur dari dasar track marking, kecuali untuk areal miring, kedalaman tidak sampai tepi petak, yakni 1 m sebelum tepi petak implement sudah diangkat (mencegah erosi). Implement yang digunakan berupa ripper dengan jumlah point 2 yang ditarik oleh traktor medium 140 HP. Alur yang dibuat tidak boleh berkelok dan tetap diusahakan selurus mungkin serta mengikuti arah track marking. 
  6. Furrowing dan pemberian pupuk basalt merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membuat alur tanam dengan jarak antar alur 50 cm, kedalaman kasuran 30 cm, dan kedalaman alur tanam > 35 cm, serta menempatkan pupuk basalt secara merata sebagai nutrisi awal tanaman di alur tanam. Cara kerjanya dengan mengikuti arah track marking yang telah di-ripping, dan menggunakan pupuk basalt yang kering dan sesuai dosis. Implement yang digunakan yaitu furrower dan basalt Ku Lin dengan jumlah terra sebanyak 4 pcs yang ditarik oleh traktor medium 140 HP. Secara sederhana dapat diterangkan bahwa pemupukan berimbang pada dasarnya memberikan pupuk kepada tanah sesuai dengan yang diperlukan oleh tanaman, dengan mempertimbangkan kemampuan tanah dalam penyediaan hara, baik berasal dari hara asli tanah ataupun dari hara residu pupuk, untuk dapat menghasilkan panen yang optimal. Oleh karena itu (tanpa harus menafikan hasil penelitian pemupukan), analisis tanah untuk mengetahui tahana (status) hara di dalam tanah merupakan hal yang penting dalam pemupukan berimbang. Ada dua hal penting dalam pemupukan berimbang yaitu :(1) hara yang diberikan kepada tanah melalui pupuk tidak terbatas pada hara N, P, K saja, tetapi mencakup semua hara makro dan mikro esensial yang lain, dan (2) macam hara dan takaran yang diberikan melalui pupuk tergantung tahana hara di dalam tanah. Dengan pemupukan berimbang diharapkan ketimpangan neraca hara di dalam tanah dapat dihindari.

 
Dalam praktek budidaya tebu memang sudah sejak lama mengaplikasikan pupuk N, P, dan K, namun keputusan pemberian hara N, P, dan K tersebut kebanyakan tidak mempertimbangkan tahana hara di dalam tanah. Oleh karena itu saran takaran pupuk seringkali bersifat umum, tidak spesifik lokasi, sehingga tingkat efisiensi pemupukan menjadi rendah. Pencapaian tingkat efisiensi pemupukan yang rendah selain disebabkan takaran pupuk yang bersifat umum, juga mungkin dikarenakan sudah terjadi kekahatan hara mikro di lahan pertanaman tebu. Kekahatan hara mikro dapat terjadi karena selama ini terjadi pengurasan hara mikro yang terus menerus melalui hasil panen, tanpa ada usaha pengembalian melalui pupuk mikro, terjadi perubahan reaksi tanah sehingga hara mikro menjadi tidak tersedia, dan dapat juga terjadi karena antagonisme dengan hara yang lain.

Harus diakui bahwa perhatian akan hara mikro masih sangat rendah, tidak saja terjadi pada para pekebun yang berpengetahuan nisbi rendah, tetapi juga terjadi pada para penentu kebijakan yang berpengetahuan nisbi lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan untuk memproduksi pupuk buatan anorganik yang hanya mengandung hara makro saja. Ada 4 hara esensial mikro yang ditengarai mulai menjadi masalah (terjadi kekahatan) pada lahan pertanaman tebu di Jawa yaitu : Fe, Zn, Cu, dan B. Besi dibutuhkan dalam sintesis kloropil dan protein. Oleh karena kloropil merupakan bahan yang terlibat di dalam proses fotosintesa, maka akibat akhir dari kekahatan Fe akan dapat menurunkan kadar gula di dalam tebu. Hara Zn ikut berperan untuk mengaktifkan ensim sucrose synthetase, ini berarti Zn ikut menentukan kadar gula yang dapat diperoleh. Kekahatan Zn juga akan menyebabkan penundaan saat kemasakan. Peranan Cu dan B yang berhubungan dengan kadar gula adalah keterlibatannya dalam proses metabolisme karbohidrat. dan transportasi gula melalui membran.

14 Agu 2011

BUDIDAYA TANAMAN TEBU ( Saccharum officinarum )

BUDIDAYA TANAMAN TEBU ( Saccharum officinarum )

I. SYARAT PERTUMBUHAN
1.1. Iklim
a) Hujan yang merata diperlukan setelah tanaman berumur 8 bulan dan kebutuhan ini berkurang sampai menjelang panen.
b) Tanaman tumbuh baik pada daerah beriklim panas dan lembab. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini > 70%
c) Suhu udara berkisar antara 28-34 derajat C.
1.2. Media Tanam
a) Tanah yang terbaik adalah tanah subur dan cukup air tetapi tidak tergenang
b) Jika ditanam di tanah sawah dengan irigasi pengairan mudah di atur tetapi jika ditanam di ladang/tanah kering yang tadah hujan penanaman harus dilakukan di musim hujan.
1.3. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah 5-500 m dpl. II.
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
2.1. Pembibitan Bibit yang akan ditanam berupa (1) bibit pucuk, (2)bibit batang muda, (3) bibit rayungan dan (4) bibit siwilan
a) Bibit pucuk Bibit diambil dari bagian pucuk tebu yang akan digiling berumur 12 bulan. Jumlah mata (bakal tunas baru) yang diambil 2-3 sepanjang 20 cm. Daun kering yang membungkus batang tidak dibuang agar melindungi mata tebu. Biaya bibit lebih murah karena tidak memerlukan pembibitan, bibit mudah diangkut karena tidak mudah rusak, pertumbuhan bibit pucuk tidak memerlukan banyak air. Penggunaan bibit pucuk hanya dapat dilakukan jika kebun telah berporduksi.
b) Bibit batang muda Dikenal pula dengan nama bibit mentah / bibit krecekan. Berasal dari tanaman berumur 5-7 bulan. Seluruh batang tebu dapat diambil dan dijadikan
3 stek. Setiap stek terdiri atas 2-3 mata tunas. Untuk mendapatkan bibit, tanaman dipotong, daun pembungkus batang tidak dibuang.
1 hektar tanaman kebun bibit bagal dapat menghasilkan bibit untuk keperluan 10 hektar.
c) Bibit rayungan (1 atau 2 tunas) Bibit diambil dari tanaman tebu khusus untuk pembibitan berupa stek yang tumbuh tunasnya tetapi akar belum keluar. Bibit ini dibuat dengan cara:
1. Melepas daun-daun agar pertumbuhan mata tunas tidak terhambat
2. Batang tanaman tebu dipangkas 1 bulan sebelum bibit rayungan dipakai.
3. Tanaman tebu dipupuk sebanyak 50 kg/ha Bibit ini memerlukan banyak air dan pertumbuhannya lebih cepat daripada bibit bagal. 1 hektar tanaman kebun bibit rayungan dapat menghasilkan bibit untuk 10 hektar areal tebu.
Kelemahan bibit rayungan adalah tunas sering rusak pada waktu pengangkutan dan tidak dapat disimpan lama seperti halnya bibit bagal. d) Bibit siwilan Bibit ini diambil dari tunas-tunas baru dari tanaman yang pucuknya sudah mati. Perawatan bibit siwilan sama dengan bibit rayungan.
2.2. Pengolahan Media Tanam Terdapat dua jenis cara mempersiapkan lahan perkebunan tebu yaitu cara reynoso dan bajak.
 2.2.1. Persiapan Disebut juga dengan cara Cemplongan dan dilakukan di tanah sawah. Pada cara ini tanah tidak seluruhnya diolah, yang digali hanya lubang tanamnya
2.2.2. Pembukaan Lahan
a) Pada lahan sawah dibuat petakan berukuran 1.000 m2. Parit membujur, melintang dibuat dengan lebar 50 cm dan dalam 50 cm. Selanjutnya dibuat parit keliling yang berjarak 1,3 m dari tepi lahan.
b) Lubang tanam dibuat berupa parit dengan kedalaman 35 cm dengan jarak antar lubang tanam (parit) sejauh 1 m. Tanah galian ditumpuk di atas larikan diantara lubang tanam membentuk guludan. Setelah tanam, tanah guludan ini dipindahkan lagi ke tempat semula.
2.3. Teknik Penanaman 2.3.1. Penentuan Pola Tanam Umumnya tebu ditanam pada pola monokultur pada bulan Juni-Agustus (di tanah berpengairan) atau pada akhir musim hujan (di tanah tegalan/sawah tadah hujan). Terdapat dua cara bertanam tebu yaitu dalam aluran dan pada lubang tanam.
Pada cara pertama bibit diletakkan sepanjang aluran, ditutup tanah setebal 2-3 cm dan disiram. Cara ini banyak dilakukan dikebun Reynoso. Cara kedua bibit diletakan melintang sepanjang solokan penanaman dengan jarak 30-40 cm. Pada kedua cara di atas bibit tebu diletakkan dengan cara direbahkan. Bibit yang diperlukan dalam 1 ha adalah 20.000 bibit. 2.3.2. Cara Penanaman Sebelum tanam, tanah disiram agar bibit bisa melekat ke tanah.
a) Bibit stek (potongan tebu) ditanam berimpitan secara memanjang agar jumlah anakan yang dihasilkan banyak. Dibutuhkan 70.000 bibit stek/ha.
b) Untuk bibit bagal/generasi, tanah digaris dengan kedalaman 5-10 cm, bibit dimasukkan ke dalamnya dengan mata menghadap ke samping lalu bibit ditimbun dengan tanah. Untuk bibit rayungan bermata satu, bibit dipendam dan tunasnya dihadapkan ke samping dengan kemiringan 45 derajat, sedangkan untuk rayungan bermata dua bibit dipendam dan tunasnya dihadapkan ke samping dengan kedalaman 1 cm. Satu hari setelah tanam lakukan penyiraman jika tidak turun hujan. Penyiraman ini tidak boleh terlambat tetapi juga tidak boleh terlalu banyak.
3.4. Pemeliharaan Tanaman
2.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
a) Sulaman pertama untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan bermata satu dilakukan 5-7 hari setelah tanam. Bibit rayungan sulaman disiapkan di dekat tanaman yang diragukan pertumbuhannya. Setelah itu tanaman disiram. Penyulaman kedua dilakukan 3-4 minggu setelah penyulaman pertama.
b) Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan bermata dua dilakukan tiga minggu setelah tanam (tanaman berdaun 3-4 helai). Sulaman diambil dari persediaan bibit dengan cara membongkar tanaman beserta akar dan tanah padat di sekitarnya. Bibit yang mati dicabut, lubang diisi tanah gembur kering yang diambil dari guludan, tanah disirami dan bibit ditanam dan akhirnya ditimbun tanah. Tanah disiram lagi dan dipadatkan.
c) Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit pucuk. Penyulaman pertama dilakukan pada minggu ke 3. Penyulaman kedua dilakukan bersamaan dengan pemupukan dan penyiraman ke dua yaitu 1,5 bulan setelah tanam.
Kedua penyulaman ini dilakukan dengan cara yang sama dengan point (b) di atas. d) Penyulaman ekstra dilakukan jika perlu beberapa hari sebelum pembumbunan ke 6. Adanya penyulaman ekstra menunjukkan cara penanaman yang kurang baik.
 e) Penyulaman bongkaran. Hanya boleh dilakukan jika ada bencana alam atau serangan penyakit yang menyebabkan 50% tanaman mati. Tanaman sehat yang sudah besar dibongkar dengan hati-hati dan dipakai menyulan tanaman mati. Kurangi daun-daun tanaman sulaman agar penguapan tidak terlalu banyak dan beri pupuk 100-200 Kg/ha. 2.4.2. Penyiangan Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan saat pembubunan tanah dan dilakukan beberapa kali tergantung dari pertumbuhan gulma. Pemberantasan gulma dengan herbisida di kebun dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November dengan campuran 2-4 Kg Gesapas 80 dan 3-4 Kg Hedanol power. 2.4.3. Pembubunan Sebelum pembubunan tanah harus disirami sampai jenuh agar struktur tanah tidak rusak.
a) Pembumbunan pertama dilakukan pada waktu umur 3-4 minggu. Tebal bumbunan tidak boleh lebih dari 5-8 cm secara merata. Ruas bibit harus tertimbun tanah agar tidak cepat mengering.
b) Pembumbun ke dua dilakukan pada waktu umur 2 bulan.
c) Pembumbuna ke tiga dilakukan pada waktu umur 3 bulan.
2.4.4. Perempalan Daun-daun kering harus dilepaskan sehingga ruas-ruas tebu bersih dari daun tebu kering dan menghindari kebakaran. Bersamaan dengan pelepasan daun kering, anakan tebu yang tidak tumbuh baik dibuang. Perempalan pertama dilakukan pada saat 4 bulan setelah tanam dan yang kedua ketika tebu berumur 6-7 bulan. 2.4.5. Pemupukan Pemupukan dilakukan dua kali yaitu
(1) saat tanam atau sampai 7 hari setelah tanam dengan dosis 7 gram urea, 8 gram TSP dan 35 gram KCl per tanaman (120 kg urea, 160 kg TSP dan 300 kg KCl/ha).dan (2) pada 30 hari setelah pemupukan ke satu dengan 10 gram urea per tanaman atau 200 kg urea per hektar. Pupuk diletakkan di lubang pupuk (dibuat dengan tugal) sejauh 7-10 cm dari bibit dan ditimbun tanah. Setelah pemupukan semua petak segera disiram supaya pupuk tidak keluar dari daerah perakaran tebu. Pemupukan dan penyiraman harus selesai dalam satu hari. Agar rendeman tebu tinggi, digunakan zat pengatur tumbuh seperti Cytozyme (1 liter/ha) yang diberikan dua kali pada 45 dan 75 hst. 2.4.6. Pengairan dan Penyiraman Pengairan dilakukan dengan berbagai cara:
a) Air dari bendungan dialirkan melalui saluran penanaman. b) Penyiraman lubang tanam ketika tebu masih muda. Waktu tanaman berumur 3 bulan, dilakukan pengairan lagi melalui saluran-saluran kebun.
c) Air siraman diambil dari saluran pengairan dan disiramkan ke tanaman. d) Membendung got-got sehingga air mengalir ke lubang tanam. Pengairan dilakukan pada saat:
a) Waktu tanam
b) Tanaman berada pada fase pertumbuhan vegetatif
c) Pematangan.
2.5. Hama dan Penyakit
2.5.1. Hama a) Penggerek batang bergaris (Proceras cacchariphagus), penggerek batang berkilat (Chilitrae auricilia), penggerek batang abu-abu (Eucosma schismacaena), penggerek batang kuning (Chilotraea infuscatella), penggerek batang jambon (Sesmia inferens)
 Gejala: daun yang terbuka mengalami khlorosis pada bagian pangkalnya; pada serangan hebat, bentuk daun berubah, terdapat titik-titik atau garis-garis berwarna merah di pangkal daun; sebagian daun tidak dapat tumbuh lagi; kadang-kadang batang menjadi busuk dan berbau tidak enak.
Pengendalian: dengan suntikan insektisida Furadan 3G (0,5 kg/ha) pada waktu tanaman berumur 3-5 bulan. Suntikan dilakukan jika terdapat 400 tanaman terserang dalam 1 hektar.
b) Tikus Pengendalian: dengan gropyokan secara bersama atau pengemposan belerang pada lubang yang dihuni tikus. 2.5.2. Penyakit a) Pokkahbung Penyebab: Gibbrela moniliformis. Bagian yang diserang adalah daun, pada stadium lanjut dapat menyerang batang. Gejala: terdapat noda merah pada bintik khlorosis di helai daun, lubang-lubang yang tersebar di daun, sehingga daun dapat robek, daun tidak membuka (cacat bentuk), garis-garis merah tua di batang, ruas membengkak. Pengendalian: memakai bibit resisten, insektisida Bulur Bordeaux 1% dan pengembusan tepung kapur tembaga. b) Dongkelan Penyebab: jamur Marasnius sach-hari Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman sebelah dalam dan bibit di dederan/persemaian. Gejala: tanaman tua dalam rumpun mati tiba-tiba, daun tua mengering, kemudian daun muda, warna daun menjadi hijau kekuningan dan terdapat lapisan jamur seperti kertas di sekeliling batang. Pengendalian: tanah dijaga agar tetap kering.
c) Noda kuning Penyebab: jamur Cercospora kopkei . Bagian yang diserang daun dan bagian-bagaian dengan kelembaban tinggi. Gejala: noda kuning pucat pada daun muda yang berubah menjadi kuning terang. Timbul noda berwarna merah darah tidak teratur; bagian bawah tertutup lapisan puiih kotor. Helai daun mati berwarna agak kehitaman. Pengendalian: adalah dengan memangkas dan membakar daun yang terserang. Kemudian menyemprot dengan tepung belerang ditambah kalium permanganat.
 d) Penyakit nanas Penyebab: adalah jamur Ceratocytis paradoxa. Bagian yang diserang adalah bibit yang telah dipotong. Gejala: warna merah bercampur hitam pada tempat potongan, bau seperti buah nanas. Pengendalian: luka potongan diberi ter atau desinfeksi dengan 0,25% fenylraksa asetat.
e) Noda cincin Bagian yang diserang daun, lebih banyak di daerah lembab daripada daerah kering. Penyebab: jamur Heptosphaeria sacchari, Helmintosporium sachhari, Phyllsticta saghina. Gejala: noda hijau tua di bawah helai daun, bagian tengah noda menjadi coklat; pada serangan lanjut, warna coklat menjadi jernih, daun kering. Pengendalian: mencabut tanaman sakit dan membakarnya.
f) Busuk bibit Bagian yang diserang adalah bibit dengan gejala tanaman kekuningan dan layu. Penyebab: bakteri. Gejala: bibit yang baru ditanam busuk dan buku berwarna abu-abu sampai hitam. Pengendalian: menanam bibit sehat, perbaikan sistim pembuangan air yang baik, serta tanah dijaga tetap kering. g) Blendok Bagian yang diserang adalah daun tanaman muda berumur 1,5-2 bulan pada musim kemarau.
Penyebab: Xanthomonas albilicans. Gejala: terdapat pada khlorosis pada daun; pada serangan hebat seluruh daun bergaris hijau dan putih; titik tumbah dan tunas berwarna merah. Pengendalian: Menanam bibit resisten (2878 POY, 3016 POY), Lakukan desinfeksi para pemotong bibit, merendam bibit dalam air panas 52,5oC dan lonjoran bibit dijemur 1-2 hari. h) Virus mozaik Penyebab: Virus. Pengendalian: menjauhkan tanaman inang, bibit yang sakit dicabut dan dibakar.
2.6. Panen
2.6.1. Ciri dan Umur Panen Umur panen tergantung dari jenis tebu: a) Varitas genjah masak optimal pada < 12 bulan
b) Varitas sedang masak optimal pada 12-14 bulan c) Varitas dalam masak optimal pada > 14 bulan. Panen dilakukan pada bulan Agustus pada saat rendeman (persentase gula tebu) maksimal dicapai. 2.6.2. Cara Panen a) Mencangkul tanah di sekitar rumpun tebu sedalam 20 cm. b) Pangkal tebu dipotong dengan arit jika tanaman akan ditumbuhkan kembali. Batang dipotong dengan menyisakan 3 buku dari pangkal batang. c) Mencabut batang tebu sampai ke akarnya jika kebun akan dibongkar.
Potong akar batang dan 3 buku dari permukaan pangkal batang.,
d) Pucuk dibuang.
e) Batang tebu diikat menjadi satu (30-50 batang/ikatan) untuk dibawa ke pabrik untuk segera digiling Panen dilakukan satu kali di akhir musim tanam.
2.6.3. Perkiraan Produksi Hasil Tebu Rakyat Intensifikasi I di tanah sawah adalah 120 ton/ha dengan rendemen gula 10% sedangkan hasil TRI II di tanah sawah adalah 100 ton dengan rendemen 9%. Di tanah tegalan produksi tebu lebih rendah lagi yaitu pada TRI I tegalan adalah 90 ton/ha dan pada TRI II tegalan sebesar 80 tom/ha.
2.7. Pascapanen
2.7.1. Pengumpulan Hasil tanam dari lahan panen dikumpulkan dengan cara diikat untuk dibawa ke pengolahan.
2.7.2. Penyortiran dan Penggolongan Syarat batang tebu siap giling supaya rendeman baik:
a) Tidak mengandung pucuk tebu
b) Bersih dari daduk-daduk (pelepah daun yang mengering)
c) Berumur maksimum 36 jam setelah tebang.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Chabbs 69 | Bloggerized by Tyo Fadill - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons